EKSISTENSI SUKU BUNGKU DITENGAH LAJU ARUS GLOBALISASI TENAGA KERJA INDUSTRI TAMBANG.
Suku Bungku adalah kelompok etnis yang mayoritas mendiami willayah Kabupaten Morowali sampai Bungku Utara di Kabupaten Morowali Utara. Suku Bungku terbagi beberapa sub suku, yaitu Lambatu, Epe, Ro'uta, Reta, dan Wowoni. Masyarakat Bungku berbicara dalam bahasa Bungku, Merupakan alat komunikasi sehari sehari sesama keluarga mereka (Wikipedia).
jumlah penduduk Kabupaten Morowali pada tahun 2020 sebanyak 158.510 jiwa. dengan persentase 56.89% atau 71.500 jiwa laki-laki dan 45.11% jiwa perempuan.
Hadirnya Morowali sebagai kawasan industri pertambangan, membuat banyak perantau dari berbagai daerah menuju Morowali mengejar mimpi guna mendapatkan pekerjaan. Sebagaimana kawasan Kec. Bahodopi seringkali disebut masyarakat dengan istilah daerah dolar. Dimana orang-orang sibuk kerj, baik sektor buruh, pedangang, serta usaha hiburan.
Koordinator Komunikasi dan Hubungan Media PT IMIP, Dedy Kurniawan mengungkapkan bahwa jumlah karyawan indonesia sampai dengan bulan Oktober 2023, sebanyak 78.443 orang. "Dari jumlah tersebut, kurang lebih 40 persen adalah tenaga kerja lokal Sulawesi Tengah termasuk Morowali, dan sisanya berasal dari provinsi lain di seluruh Indonesia".
Menurut Luhut Jumlah tenaga kerja asing china di PT. IMIP sekitar 10%-15%, sekitar 4 sampai 5 ribuan tenaga kerja asing. Di tambah lagi hadirnya Kawasan Indsutri BTiiG disinyalir juga menggunakan tenaga kerja asing yg jumlahnya ribuan. Maka tak heran Morowali saat ini dikepung kawasan Industri pertambangan.
Jumlah persentasi arus migrasi baik lokal maupun globalisasi sangatlah besar, hal ini mempengaruhi tatanan sosial budaya Masyarakat Morowali khususnya Suku Bungku. Menurut Malinowski, Budaya yang lebih tinggi dan aktif akan mempengaruhi budaya yang lebih rendah dan pasif melalui kontak budaya.
kurang minat generasi mudah serta peran pemerintah masih kurang dalam pelestarian budaya, bersyukur masih ada segilintir komunitas yg masih berjuang melestarikan budaya. Kita bisa lihat kondisi rumah raja serta masjid tua bungku yang masih menjadi simbol eksistensi suku bungku. Menurut saya ujung tombak atau hal pertama yang dilihat sebagai ciri khas budaya adalah dialek atau bahasa. sekarang peran generasi mudah untuk tidak malu mempertahan ciri khas budaya lokal, agar bahasa bungku tidak menjadi bahasa terancam punah 10 tahun kedepan.
peran pemerintah serta ormas dalam bersinergi sangat dibutuhkan, sebab eksistensi suku bungku sudah di akui sejak abad 16 masehi lewat catatan para antropolog Belanda.
permukiman kawasan lingkar industri( Sumber foto : Antaranews)

Komentar
Posting Komentar